Pada waktu yang sama, jam yang sama, tempat yang sama dan kesempatan yang sama, si keriput miskin itu duduk dengan alat pengeruk di tangannya. Sesekali ia menghembuskan nafas lega dan merobek udara pagi dengan kantuknya.
Di hadapannya berserak dedaunan kering mengganggu pikirannya. Tak terbayangkan apa yang harus dilakukannya. Tak tanggung-tanggung, tanpa memikirkan malu, ia menyatukan dedaunan kering itu.
Apa yang diperoleh dari perbuatannya itu? Ia pun tak mengerti bahkan
tak sempat berpikir tentang itu. Namun jelaslah ia menunjukkan titah
hidup dari tiap-tiap keburukan dengan pikiran kerdil tanpa memandang
dunia sekitar.
Bahwasanya dari kerusakan, sampah dan kebobrokan, dunia diciptakan. Bukan diciptakan oleh Yang Mahakuasa tetapi manusia yang tak berakal. Tak ada pandang remeh, tak perlu kepicikan, tak butuh kemewahan, hanya pikiran kerdil berlapiskan niat besar.
NN
Bahwasanya dari kerusakan, sampah dan kebobrokan, dunia diciptakan. Bukan diciptakan oleh Yang Mahakuasa tetapi manusia yang tak berakal. Tak ada pandang remeh, tak perlu kepicikan, tak butuh kemewahan, hanya pikiran kerdil berlapiskan niat besar.
NN
Tidak ada komentar:
Posting Komentar