Pesona jiwa tak terbilang larisnya, tak memandang cantiknya sang ratu dalam puri-puri nirwana. Bahkan tak terlukiskan lamunan hebat dalam kisaran waktu. Jiwa tak henti-hentinya pancarkan sinar tulus melebihi dunia indah pemilik para lelaki pun perempuan. Sebab musebab itulah ia abadi mengalahkan lajunya semua keindahan fisik yang pernah dinikmati mata.
Auranya begitu kental dilapisi benang-benang maron sang pencipta abadi nan jaya. Tentulah keiirian dunia nampak kala ia maju melintasi gaganya samudera raya dan luasnya dunia. Ia bukan tentang kontak fisik, tidak dalam ukuran penguasa waktu tetapi bersemayam pada keabadian pencipta. Ia bahkan terlampau hebat bagi sanjungan pikir dan jempol.
Raja-raja datang melihatnya karena ingin memiliki. Memiliki hal yang
tak mereka miliki sebelum pada itu. Mereka berlomba-lomba dari emperan
yang satu ke yang lain hanya untuk bersua dengannya. Tetapi mereka malah
kewalahan dengan tubuh yang menyiksa dan memperdaya. Seyogyanya ia
menarik mereka keluar dari kebencian menuju kehidupan.
Pesona jiwa mengelabui pandangan keliru, membabat habis tabiat tak terpuji, menerobos dinding-dinding pemisah. Aura jiwa melumurkan kekerasan, melemahkan kericuhan, memenangkan kerusuhan. Ayolah kemari lekaslah terima kesediaan pencipta nan agung ini biar hidup jadi tentram dalam keabadian nan jaya itu. Porak poranda tidak perlu, tetapi bajiknya.
NN
Pesona jiwa mengelabui pandangan keliru, membabat habis tabiat tak terpuji, menerobos dinding-dinding pemisah. Aura jiwa melumurkan kekerasan, melemahkan kericuhan, memenangkan kerusuhan. Ayolah kemari lekaslah terima kesediaan pencipta nan agung ini biar hidup jadi tentram dalam keabadian nan jaya itu. Porak poranda tidak perlu, tetapi bajiknya.
NN
Tidak ada komentar:
Posting Komentar