Senin, 26 Oktober 2015

Semuanya diam, di situ harapan ada


Dari seberang sana timbul suara-suara keluhan tentang bumi yang sekarang memilukan. Asap kabut mengitari seluruh permukaan dalam sekejap mata. Mata pun tak mampu menatap ke mana-mana karena objek indah yang ingin dipandanginya berlalu tanpa kata-kata mesra.

Simponi indah berubah menjadi bising tak berisi sambil menjiplak kejelekan alam. Inikah yang namanya perubahan itu? Ini kah yang pada dirinya kekacauan itu? Sesungguhnya tak ada yang menginginkan semua itu. Semua akan dikenang sejauh memori menyimpan. 

Saat-saat di mana kata tak lagi terucap, suara tak lagi terdengar, manis pahit tak lagi terasa, hingar bingar meredup, cahaya tak lagi dibutuhkan, riak tangis sedu terhenti, alunan musik mengalami falsivikasi, percayalah bahwa penguasa tertinggi akan menghidupkan harapan dalam kalbu sepih nan kelabu.

NN

Tidak ada komentar:

Posting Komentar