Kamis, 19 November 2015

Hanya Engkau!

(gambar: http://www.tahupedia.com/content/show/387/10-Labirin-Paling-Rumit-Dan-Menakjubkan-Di-Dunia)

Dalam peraduanmu pun kau akan tenang bahagia. Dalam gegap gempita kau pun dapat bahagia. Dalam malam sekalipun kau takkan kesepian. Dalam apapun itu, kau tetap dan tetap damai. Kau tahu kenapa? Kau tak pernah sendirian dalam semua keadaan.

Lihatlah di sekelilingmu; banyak yang mondar-mandir tapi hampa. Mereka tak punya harapan, mereka mengabaikan diri sendiri, tak mengerti masa sekarang, bahkan dibutakan oleh hidup yang seperti labirin. Kau tahu kenapa? Mereka kosong dalam kehampaan sempurna.

Memang mereka sibuk tapi tak tahu arah jalan sendiri. Mereka bekerja tapi hanya untuk mengatasi ketakutan terhadap hidup suram. Mereka hidup tapi maut menyertai. Tak ada sesuatu yang perlu dibanggakan hanya karena lupa pelabuhan terakhir mereka.

Peraduanmu itulah hidupmu. Gegap gempita itulah heningmu. Malam itulah terangmu. Apapun itulah Engkau. Seakan seperti membalik telapak tangan yang berlawanan arah. Mudah, hanya karena Engkau percaya dapat melakukannya. Engkau nyaman, Engkau gembira, tanpa Engkau tahu.

Waktumu, bukan untuk sibuk, pergi ke sana kemari, bukan untuk dihabiskan tanpa menghiraukan ketakutan. Itu karena Engkau mengenal, mengenal dirimu. Engkaulah hidup, Engkau akan melewati labirin sulit itu dengan kekuatan jiwa. Itu mereka tak miliki. Hanya Engkau!

NN

Rabu, 18 November 2015

Rembulan Setia kok...

Di belakang hitamnya malam tergantung cahaya setia yang takkan pernah mati. Cahaya sang penyejuk, pembeda, dan pemberi nuansa indah. Cahaya yang meski tak terlalu menghibur namun tetap dibutuhkan orang. Siapakah pemilik cahaya itu? Dialah Rembulan. Ya, dia setia memberimu terang yang kau butuhkan, Kawan.

Ia tak memintamu untuk membelainya atau mengaguminya. Ia hanya ingin kau melihatnya, menikmatinya. Sebab itulah kesempurnaannya. Ia sempurna tatkala kau setia duduk di bawahnya. Ia tak mengharapkan sesuatu yang lebih darimu. Ia hanya butuh kau melepaskan kepenatanmu dan menerima panacaran cahayanya yang membias.

Kawan, bila hidup seakan gelap dan kau tak dapat berbuat apa-apa lagi, tak perlulah kau mencari solusi abstraksi yang berlebihan. Cukuplah memahami dirimu bersama sang Rembulan yang setia. Mungkin malam ini ia tak tampak, tapi ia tetap setia. Ia hanya pergi sebentar dan akan kembali melihatmu. Kau, lihatlah kesetiaannya. Kesetiaan untuk datang dan memberimu harapan untuk bangkit. Gelap bukan berarti kau kalah, tapi tetap setia bersama apa yang baik yang dapat kauusahakan. Saat itu, kau adalah Rembulan.

NN

Rabu, 04 November 2015

O Cinta, Kau...


Ah.. aku ingin menulis tentang Cinta nan agung itu. Kuingin gerak pena di tanganku melintas pada lembaran-lembaran putih bersih ini. Tinta meski buram tapi tak memburami maknamu yang tak tertuliskan. Laksana awan kabut yang tak mampu menglenyapkan indahnya si pemandangan.

(gambar: https://katekis.wordpress.com/2011/08/01/cinta-tuhan-atau-cinta-uang/)
Mataku tak ingin berkedip sekali pun saat tulisan buram itu mulai terpatri. O Cinta, tak terbilang senimu. Kau melahirkan keindahan dalam sanu bari. Letupan auramu membiaskan senyum pada wajah. Sebaris kata tentangmu melumpuhkan senyawa-senyawa sialan bergelora.

Ah.. bukannya kata tak mampu melukiskanmu? Tapi tangan ini belum berhenti. Ya.. kuhanya menuliskan apa yang dapat kurenungkan tentangmu. Selebihnya, kau menghiasi ruang hati sepih. Hebatnya auramu melumurkan perih-perih tertempel. Menggerakkan, itulah engkau.

Salam Cinta... wink emotikon

NN